Rhizome

Posted on 22. Oct, 2009 by admin in Sound Governance, Uncategorized

slogan-bambooDalam perbincangan sehari-hari kita telah sering mendengar istilah heirarkhi. Pikiran kita pun telah dihegemoni sedemikian rupa oleh konsep heirarkhi, hingga seolah tak ada kebenaran lain selain heirarkhi. Ini adalah salah satu contoh konsep Foucault tentang bahasa yang memroduksi kekuasaan. Padahal, semua konsep pasti ada lawannya: demokrasi vs otoriter, hitam vs putih, gelap vs terang, dan hierarkhi vs rhizome!

Kalau dalam wacana poskolonialsme dikenal konsep “provinsionalisme” sebagai lawan dari “orientalisme”, maka dalam konteks studi kekuasaan, kita tidak bisa hanya menandalkan pada revolusi kelas bawah saja. Sebab perubah kelas pada akhirnya akan menciptakan struktur kekuasaan baru yang barangkali tidak kalah eksploitatif dibandingkan kekuasaan lama. Contohnya, ketika sistem politik internasional yang unipolar saat ini dibenturkan dengan sistem bipolar (jaman Perang Dunia Kedua atau Perang Dingin) atau dengan sistem multi polar (Perang Dunia Pertama), maka jelas jawabannya adalah lebih baiksistem unipolar (kekuasaan tungal di tangan Amerika Serikat). Tapi harus diingat bahwa dalam sistem unipolar, bipolar dan multipolar, didalamnya terdapat heirarkhi. Satu kekuatan di atas kekuatan-kekuatan yang lain.

Lintasan ideologi dalam mengaji kekuasaan, tidak bisa lepas dari konsep heirarkhi. Disitulah inti masalahnya!

Gilles Deleuze dan Félix Guattari dalam proyek mereka Capitalism and Schizophrenia (1972-1980) mengatakan bahwa kita perlu mengkitisi relasi kuasa dan masyarakat sampai pada keakarnya (Sadan, 1997). Dan akar masalah itulah yang selama ini tidak tersentuh, yaitu: “hierarkhi”. Untuk melawan konsep hierarkhi perlu diperkenalkan pada masyarakat tentang sebuah konsep yang disebut “Rhizome”. Rhizome adalah keadaan dimana terbangun sebuah jejaring yang seimbang diantara tiap-tiap simpulnya. Di sini kuncinya bukan pada besar-kecilnya simpul, tapi masalah “ketergantungan” satu simpul terhadap simpul yang lain.

Menciptakan hubungan masyakat yang demokratis dan egaliter sesungguhnnya adalah usaha untuk mencapai sedapat mungkin pola hubungan yang nir-ketergantungan. Menciptakan entitas-entitas politk yang tersebar dan otonom, dapat beraliansi secara taktis dan strategis pada saat-saat tertentu adalah pola masyarakat rhizome. Jika merujuk pada Newtonian sosial, tiap-tiap entitas politik itu ibarat inti atom, yang dapat menyatu membentuk sebuah benda (misal sebuah meja), tetapi masing-masing inti atom tak harus sirna saat meja tersebut hancur berkeping-keping. Inilah rhizome. Jika merujuk pada Foucault, rhizome adalah kekuasaan-kekuasaan yang tersebar. Dan jika merujuk pada poskolonalis, rhizome adalah provinsionalisme itu sendiri. Jika merujuk pada masyarakat, rhizome adalah individu-individu yang mandiri, bebas dalam berkehendak, tidak tereksploitasi, tidak terobjektifikasi. Dan, atas kesadaran penuhnya sendiri (consciuousness) membetuk sebuah order. Tanpa paksaan, tanpa penaklukan!

g

Masukkan Email Anda:

Jangan Lupa Klik Link Aktivasi Yang Terkirim ke Email Andaby FeedBurner

Artikel Terkait

  • Artikel Lainnya

Tags: , ,

One Response to “Rhizome”

  1. hatta 27 November 2009 at 9:21 pm #

    sistem rhizome dalam defacto sudah ada belum?contoh negaranya atau dri jaman dulu,misalnya jaman Rasul muhammad mungkin?


Leave a Reply